
BEIJING – Kementerian Pertahanan (Kemhan) Amerika Serikat (AS) melancarkan protes keras kepada China setelah satu unit drone bawah laut mereka disita di dekat Teluk Subic, Filipina. Negeri Tirai Bambu akhirnya angkat bicara mengenai insiden tersebut.
Kemhan China mengapresiasi upaya Angkatan Laut (AL) mereka menangani insiden tersebut. Drone yang disita itu dianggap membahayakan keamanan navigasi di perairan Laut China Selatan (LCS). Beijing siap mengembalikan drone tersebut setelah selesai diselidiki.“Dalam rangka mencegah bahaya yang ditimbulkan alat ini kepada navigasi kapal yang melintas, China melakukan sikap yang profesional dan bertanggung jawab dalam menyelidiki serta memverifikasi alat tersebut,” tutur juru bicara Kemhan China, Yang Yujun, seperti dimuat Russia Today, Minggu (18/12/2016).
Negeri Panda menuduh Negeri Paman Sam melakukan pengawasan militer dengan kapal-kapalnya di sekitar LCS untuk menyatakan eksistensinya. China meminta AS menghentikan aksi tersebut. “Kami akan tetap bersikap waspada terhadap segala aktivitas AS dan melakukan langkah yang sesuai untuk menanganinya,” bunyi pernyataan resmi Kemhan China.
Kementerian Luar Negeri China menyatakan telah menggunakan kanal militer untuk menangani isu dengan cara yang pantas bersama dengan AS. Atase pers Kemhan AS, Peter Cook, menyampaikan bahwa China siap mengembalikan drone itu ke AS. Akan tetapi, China sempat kecewa karena AS membesar-besarkan insiden tersebut.
Sebagaimana diberitakan, insiden terjadi tepat di depan hidung kru kapal AS, UNSNS Bowditch yang tengah berlayar sekira 100 mil dari Teluk Subic pada Kamis 15 Desember 2016. Bowditch sedang berhenti untuk mengambil dua unit drone ketika kapal perang China yang membuntuti Bowditch langsung menurunkan kapal kecil dan mengambil salah satu drone.
sumber (news,okezone.com)
EmoticonEmoticon